Selasa, 30 Juni 2015

Para Pemuda Penerus Perjuangan, Pulanglah!

“Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. 
Siapa yang tidak kenal kata-kata fenomenal ini? Ya, sebuah kata yang cukup menggetarkan jiwa dari sang Founding Father Negara kita, Soekarno. Bukan tanpa alasan Soekarno berkelakar demikian, karena memang pada faktanya, negara ini diperjuangkan dan digerakkan oleh para pemuda.

Bagai seorang bayi yang baru lahir, Indonesia berusaha mencari jati diri untuk menunjukkan eksistensi dirinya di mata dunia. Berbagai organisasi dan pergerakan bersama-sama maju memberikan sumbangsih untuk menentukan jalan hidup dan nasib bangsa ini. Beragam kelompokpun mulai bermunculan dengan membawa latar belakang yang berbeda-beda. Agama, suku, ideologi telah berubah, bergerak laksana kuda perang yang mendorong mereka untuk bergerak maju mengarahkan masa depan bangsa.



Dan aktor dibalik semua itu adalah para pemuda. Semangat perjuanagn para pemuda bangsa akhirnya membuahkan hasil yang cukup manis, yaitu kemerdekaan Negara Indonesia.
http://www.muhammadiyah.or.id/
Salah satu organisasi masyarakat yang juga memiliki andil sangat penting dalam memperjuangkan kedaulatan Negara Indonesia adalah Muhammadiyah. Sebut saja, Ki Bagus Hadikusumo, Mr Kasman Singodimedjo dan KH Abdul Kahar Muzakir, para pemuda Muhammadiyah yang berjasa dalam merumuskan dan memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Muhammadiyah sendiri adalah sebuah organisasi Islam yang didirikan oleh seorang pemuda yang memiliki semangat juang tinggi bernama Muhammad Darwis, atau yang sering dikenal dengan KH Ahmad Dahlan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, KH Ahmad Dahlan telah mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912. Dengan semangat perjuangan memberantas kebodohan dan kemiskinan serta memperbaiki akidah umat islam, KH Ahmad Dahlan didampingi sang istri, Siti Walidah, mendirikan sebuah persyarikatan dengan dana pribadi, yaitu persyarikatan Muhammadiyah. Semangat pasangan suami istri ini berhasil merekrut banyak kaum muda untuk masuk ke dalam persyarikatan dan berjuang mengembangkan serta memurnikan ajaran Islam. Salah satu prestasi luar biasa yang dicapai pada saat itu adalah berdirinya sekolah Islam untuk kalangan rakyat jelata dan sebuah balai pengobatan Penolong Kesengsaraan Umat yang sekarang dikenal dengan nama PKU Muhammadiyah.

Maka tidak heran jika para pendiri, pendahulu dan pejuang Muhammadiyah adalah kaum muda. Bahkan hampir dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah tidak akan eksis hingga saat ini tanpa adanya semangat para pemuda saat itu.
Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang?Saat ini, krisis pemuda telah menjadi sebuah permasalahan komprehensif di Indonesia, tak terkecuali oraganisasi kita, Muhammadiyah. Keluhan yang sering mucul dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah adalah tidak adanya kader yang melanjutkan amal usaha Muhammadiyah. Keluhan ini dirasakan rata oleh hampir setiap cabang dan ranting di Indonesia, dari sabang sampai Merauke.

Dimanakah mereka para pemuda ini?Mereka ada. Periksalah ke universitas-universitas Muhammadiyah. Disana, terdapat ribuan bahkan jutaan mahasiswa yang notabene dididik untuk menjadi penerus perjuangan Muhammadiyah. Tak sedikit pula diantara mereka yang sering melakukan aksi menyampaikan aspirasi mereka, mulai dari urusan internal kampus hingga urusan negara. Berbagai cara unik juga mereka gunakan demi menyalurkan ide-ide yang berenang-renang nakal di dalam pikiran. Bahkan, tak sedikit pula yang berani menempuh jalan ekstrim melawan aparat pemerintah, melukai diri sendiri, demi memperjuangkan nasib rakyat (katanya).

Tapi, di antara sekian banyak mahasiswa yang kreatif dan memiliki ide cemerlang semasa kuliah tersebut, berapakah yang akhirnya kembali kepada persyarikatan? Sangat sedikit!
Apakah bekal yang mereka dapat dari Universitas tak cukup untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah di daerah dimana mereka berasal? Mungkin, hanya sedikit dari mereka yang mengerti pesan KH Ahmad Dahlan “Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) dimana dan kemana saja. Jadilah master, insinyur, dan professional lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu”.
Lihatlah, betapa bapak kita telah mengkhawatirkan nasib Muhammadiyah dalam jangka waktu yang cukup panjang. Jauh-jauh hari sebelum masa ini terjadi, beliau telah mengkhawatirkan nasib anak-anak Muhammadiyah. Hal ini mengingatkan kita pada firman Allah SWT QS. An-Nisa’: 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”Sejak awal berdirinya, KH Ahmad Dahlan sudah mewanti-wanti anak cucu Muhammadiyah untuk terus berkemabng, menjadi kuat di segala sektor kehidupan, tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang sangat pesat, bila perlu, menjadilah penguasa pada setiap bidang. Namun, poin terpenting dan sering terabaikan oleh kita adalah pesan pada kalimat terakhir “LALU KEMBALILAH KEPADA MUHAMMADIYAH SESUDAH ITU”.
Sudahkah para pemuda Muhammadiyah memikirkan dan merenungkan hal ini? Kemanakah mereka setelah sukses menjadi dokter, insinyur, pengusaha, dan berbagai posisi penting lainnya? Tidak ingatkah mereka dengan tempat asalnya?

Ya, tempat awal, cikal bakal kesuksesan mereka. Muhammadiyah cabang dan ranting yang berjalan terseok-seok meneruskan amal usaha yang ada, mempertahankan persyarikatan di tengah gempuran ormas-ormas lain yang mulai berkembang maju. Bapak-bapak yang hampir berputus asa akan kader penerusnya. Sementara itu, kaum muda yang dibekali pendidikan tinggi tak kunjung datang, kembali membantu menghidupkan persyarikatan.
Dimanakah letak kesalahannya?

Mungkin kita perlu merenung sejenak, mencari letak kekeliruan dan memperbaiki apa yang telah terjadi.
Terlanjur Nyaman Hidup di KotaBertahun-tahun hidup di kota untuk menuntut ilmu, berorganisasi, bergaul dengan teman-teman mahasiswa, akses mudah kesana kemari, tak ketinggalan sarana berbelanja kebutuhan sehari-hari. Selain karena permasalahan ekonomi (mahalnya biaya transportasi), ada banyak faktor yang mendukung mahasiswa luar kota untuk tidak banyak memiliki kesempatan pulang ke kampung halaman. Sehingga hampir bertahun-tahun hidupnya dijalani di kota tempat ia menuntut ilmu. Hal ini memberikan efek buruk, yaitu sudah terlanjur nyaman hidup di tempat ia kuliah dan enggan kembali ke kampung halaman.

Kondisi seperti ini banyak terjadi di kalangan mahasiswa. Ketika merantau telah menjadi pilihannya, maka kemungkinan kecil mereka akan kembali ke kampung halaman. Pengaruh dan cara pandang mereka sudah mulai terkontaminasi oleh kehidupan kota. Sehingga jika kembali ke tampat asal, maka rasa gengsi yang akan muncul. Bayangan kolot dan tertinggal di desa menyebabkan mereka enggan untuk kembali dan mengabdi di kampung halaman.
Cara Berfikir yang Berbeda dengan Penduduk Desa
Bagaimana dengan mereka yang memiliki keinginan untuk kembali ke kampung halaman?
Memang tidak semua mahasiswa memutuskan untuk menetap di kota tempat ia kuliah, namun ada sebagian kecil dari mereka yang masih “ingat” dengan kampung halaman dan beri’tikad untuk kembali mengabdi di kampung halaman. Namun apakah semuanya berjalan dengan lancar?

Tidak. Ada banyak kendala yang harus mereka hadapi ketika kembali ke kampung halaman dan berniat ingin melakukan “perubahan”. Berbekal ilmu yang telah ia peroleh selama perkuliahan, tentu cara berfikir mereka berbeda dengan penduduk desa. Ada banyak hal yang ingin mereka kerjakan untuk mengubah masyarakat desa menjadi masyarakat yang lebih maju dan modern –dengan cara berfikir mahasiswa tentunya -. Tapi tidak semua penduduk mampu menerima cara berfikir anak kuliahan tersebut. Sebagaiamana umumnya penduduk desa yang masih menjunjung tinggi nilai adat istiadat daerah setempat, ada banyak hal yang tidak boleh diubah dan tidak boleh diganggu gugat, jika tidak ingin “kuwalat” nantinya.
Dua cara pandang yang berbeda inilah yang akhirnya menimbulkan perdebatan panjang. Sehingga, mau tidak mau, anak kuliahan yang terbatas jumlahnya tersebut harus mengalah dengan masyarakat yang memiliki pendirian teguh itu. Oleh karena tidak adanya kepercayaan serta muncul penolakan dari masyarakat, maka kembalilah anak kuliahan tadi ke kota, dimana ia dapat hidup sesuai dengan “kata hatinya”.

Lain cerita jika anak kuliahan ini memiliki mental yang kuat dan kesabaran yang tinggi melayani keluhan masyarakat. Semangat juang yang tinggi tidak lantas mengendurkan langkahnya melakukan perubahan. Meski membuthkan waktu yang sangat panjang, ia tetap bersabar untuk merealisasikan idenya sehingga masyarakat mau menerima. Perlahan namun pasti, perubahan ke arah yang lebih baik akan terwujud. Namun sayangnya, pemuda lulusan universitas yang seperti ini sudah sangat langka ditemui di belahan bumi ini!.
Tidak Tersedia Lapangan Pekerjaan yang Sesuai dengan KeahliannyaApa yang dicari ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas? Apa tujuan yang ingin dicapai ketika menentukan jurusan atau program studi yang dipilih?
Meski tidak seluruhnya, namun sebagian besar calon mahasiswa akan menjawab “untuk melanjutkan masa depan”, “agar mudah mendapatkan perkerjaan”, “agar tidak tertinggal dengan perkembangan zaman”, dan jawaban-jawaban lain semisalnya.
Orientasi kebanyakan mahasiswa dan para orang tua tentunya adalah melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana sehingga mudah mendapatkan pekerjaan. Ya, pekerjaan adalah orientasi hidup yang tidak dapat dipungkiri. Inilah sebabnya, ketika para mahasiswa telah berhasil menyelesaikan pendidikannya, mereka berbondong-bondong mencari pekerjaan yang menurut mereka layak dan sesuai dengan gelar yang mereka sandang. Pekerjaan yang mereka anggap keren dan elit tentu pekerjaan ringan, seperti guru, dosen, pegawai negeri, pegawai kantor, dokter, dan lain-lain.

Permasahalannya adalah, perkerjaan yang mereka cari tidak tersedia di daerah tempat asalnya. Yang ada disana adalah petani, pekebun, tukang kayu, dan pekerjaan berat lainnya. Dengan gelar yang mereka sandang, selain karena bukan keahliannya, mereka memasang gaya “gengsi” untuk bekerja sebagaimana pekerjaan mayoritas penduduk asal.
Akibatnya adalah, para pemuda ini menjadi pemuda loyo yang tidak memiliki semangat untuk merubah masa depan menuju ke arah yang lebih baik. Kembali ke kampung halaman bukanlah pilihan yang tepat menurut mereka.

Kondisi Muhammadiyah yang sedang krisis kader tidak lantas mampu mengokohkan hati mereka untuk tetap berjuang di kampung halaman. Kebutuhan akan pekerjaan dan kelangsungan hidup pribadi lebih menjadi prioritas ketimbang menghidupkan Muhammadiyah.
Kurangnya Perhatian dari Pimpinan Muhammadiyah SetempatJika mau berfikir lebih dalam dengan kepala dingin, maka akan kita temukan bahwa tidak adanya kader penerus Muhammadiyah bukan melulu kesalahan para pemuda. Campur tangan Pimpinan Muhammadiyah setempat juga mempengaruhi kwalitas serta kwantitas kader Muhammadiyah. Bahkan dapat dikatakan bahwa Pimpinan Muhammadiyah memberikan kontribusi yang cukup penting untuk kelangsungan kader Muhammadiyah.
Contohnya saja, ketika keluhan akan jumlah kader yang semakin kritis, tindakan apakah yang sudah dilakukan?

Pembibitan kader sangat diperlukan sejak dini. Namun, yang sering terlupakan adalah pengawasan dan perhatian terhadap kader yang dibibit tersebut. Ketika Muhammadiyah telah bertekad mengutus beberapa pemudanya untuk melanjutkan pendidikan ke luar kota dengan harapan akan kembali dan melanjutkan perjuangan, maka disitu harus ada konsistensi untuk memperhatikan utusan tersebut. Tidak melepasnya begitu saja.
Namun hal yang lebih memprihatinkan adalah, para pengurus Muhammadiyah terlalu sibuk menyiapkan kader dari pemuda-pemuda di lingkungan sekitarnya, sehingga lupa bahwa mereka juga memiliki putra putri yang juga siap untuk diterjunkan melanjutkan perjuangan Muhammadiyah. Hal ini banyak kita jumpai di cabang dan ranting Muhammadiyah. Entah karena alasan apa, para pengurus Muhammadiyah lebih memilih untuk “membebaskan” putra putrinya dari Muhammadiyah. Ketika putra putri mereka telah sukses, mereka seakan enggan untuk meminta kembali dan mengembangkan Muhammadiyah.
Ketidakpercayaan dari Para Senior

Siapakah yang sering meramaikan masjid? Sipakah yang sering ditunjuk untuk menjadi imam masjid? Siapakah yang dipercaya untuk mengisi ceramah atau khutbah Jum’at? Di banyak masjid di berbagai daerah sering kita jumpai mereka yang menjadi imam, menjadi khatib dan para ustadz yang mengisi kajian adalah beliau-beliau yang sudah dianggap mumpuni, memiliki ilmu dan berpengalaman. Ya, wajah-wajah senior sering menghiasi masjid untuk memberikan wejangan-wejangan kepada masyarakat. Para senior dianggap lebih berhak mengisi acara keagamaan dibandingkan dengan kaum muda. Bahkan ada anggapan bahwa para pemuda tidak sopan jika memberikan kajian dan “mengajari” para senior. Inilah kesalahan yang perlu diperbaiki. 

Ketidakpercayaan terhadap para pemuda menyebabkan kemunduran mental mereka. Padahal, jika para pemuda ini diberikan kesempatan untuk sekedar menjadi imam sholat atau mengisi khutbah jum’at, akan ada banyak manfaat yang diperoleh. Memberikan kepercayaan kepada kaum muda adalah proses pengkaderan secara langsung. Selain untuk melatih keberanian dan keterampilan mereka, juga akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri pemuda. Mereka akan merasa dihargai sehingga semangat untuk terus menutut ilmu tumbuh dari dalam diri mereka. Dengan adanya penghargaan dari para senior, para pemuda akan dengan senang hati dan penuh kesadaran untuk mengembangkan amal usaha yang telah dirintis oleh para pendahulunya. Sehingga ketika mereka diminta untuk kembali kepada Muhammadiyah, sama sekali tidak ada beban dan rasa berat hati.
http://muktamar47.muhammadiyah.or.id/

Sentuhan Akhir
Demikianlah sedikit gambaran tentang krisis kader Muhammadiyah. Hanya segelintir pemuda yang sadar dan kembali ke Muhammadiyah. Selebihnya, asyik dengan dunia mereka masing-masing.

Solusi yang paling tepat tentu penyadaran diri para pemuda kita, bahwa Muhammadiyah adalah ladang perjuangan yang tidak boleh ditinggalkan. Betapa para sesepuh dan senior kita telah berjuang mencurahkan seluruh hidupnya untuk Muhammadiyah.
Hendaknya kita renungkan firman Allah swt QS. At-Taubah: 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”Lihatlah, Allah SWT melarang jika semua umat Islam untuk pergi berperang. Hanya sebagian saja yang diperbolehkan untuk berperang. Dengan tujuan apa? Supaya ada sebagian muslim yang berjuang menegakkan agama Islam dengan cara yang lain, yaitu memperdalam ilmu pengetahuan, mengajarkan Islam kepada kaum muslim yang lain hingga anak cucu. Kalau untuk berperang melawan kafir –dimana jihad merupakan perbuatan yang sangat mulia – saja dibatasi, bagaimana dengan pergi meninggalkan umat hanya untuk mencari kesenangan duniawi?

Begitu pula dengan kondisi Muhammadiyah, pergilah keluar wahai pemuda. Pergilah, tuntutlah ilmu untuk bekalmu, namun kemudian kembalilah kepada Muhammadiyah. Ingatlah, Muhammadiyah adalah ladang amal dan perjuangan yang telah dirintis lebih dari 1 abad yang lalu. Jangan kau sia-siakan perjuangan nenek moyangmu.

Perlu diingat pula bagi para pengerus Muhammadiyah. Jika serius ingin membibit kader, maka persiapkanlah dengan baik. Sediakan pekerjaan yang layak bagi para kader jika mereka sudah siap kembali ke kampung halaman. Jangan hanya meminta untuk mengembangkan Muhammadiyah, tetapi kehidupan finansial tak tercukupi. Karena bagaimanapun juga, umat Islam diperintahkan unutk kuat dalam hal ekonomi dan agama.

Latihlah anak-anak muda untuk menjadi pemimpin dengan memberikan kepercayaan meski sekedar menyampaikan khutbah jum’at. Ini adalah hal sepele namun sangat besar efeknya. Satu hal yang tak kalah penting adalah, jangan biarkan putra putri pengurus Muhammadiyah justru melupakan Muhammadiyah. Jadilah apapun, namun tetap kembalilah kepada Muhammadiyah.

4 komentar:

  1. Gak terlalu ngikutin organisasi muhammadiyah ato lainnya. Bkn tdk suka, tp ya blm sempat aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting jadi pemuda yg produktif. 👍

      Hapus
  2. seandainya para pemuda yg sukses pulang kampung smua, mungkin ga akan ada kesenjangan daerah ya...

    BalasHapus